Digitalisasi Layanan Internet: Mahasiswa Rancang Sistem Informasi Berbasis Web di K-One Dream Network
Nama Mahasiswa : Muhammad Nashron Ma'ruf, dan Jeon Marshall Garcia
Mahasiswa Universitas Pamulang
Dalam upaya mendukung transformasi digital di sektor layanan internet, mahasiswa melaksanakan kegiatan Kerja Praktik (KP) di K-One Dream Network dengan mengembangkan Sistem Informasi Layanan Jasa Langganan Internet Berbasis Web. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu perusahaan meningkatkan efektivitas pengelolaan data pelanggan, proses pendaftaran layanan, serta administrasi layanan internet agar lebih cepat, akurat, dan terintegrasi.
Selama pelaksanaan Kerja Praktik, mahasiswa melakukan observasi terhadap proses bisnis yang berjalan, mengidentifikasi kebutuhan sistem, serta menganalisis berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan layanan pelanggan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian proses administrasi masih dilakukan secara manual, sehingga berpotensi menimbulkan keterlambatan pelayanan, kesalahan pencatatan data, dan kesulitan dalam penyusunan laporan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, mahasiswa merancang dan membangun sistem informasi berbasis web menggunakan metode Waterfall. Metode ini dipilih karena memiliki tahapan pengembangan yang sistematis, mulai dari analisis kebutuhan, perancangan sistem, implementasi, pengujian, hingga pemeliharaan. Pendekatan tersebut memungkinkan proses pengembangan dilakukan secara terstruktur sehingga menghasilkan sistem yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Sistem yang dikembangkan dilengkapi dengan berbagai fitur, di antaranya pengelolaan data pelanggan, pendaftaran layanan internet, pengelolaan paket layanan, pencatatan transaksi, serta penyajian laporan yang dapat diakses secara lebih mudah oleh administrator. Dengan adanya sistem ini, proses administrasi menjadi lebih efisien, data tersimpan secara terpusat, serta memudahkan proses monitoring terhadap layanan yang diberikan kepada pelanggan.
Kegiatan Kerja Praktik ini tidak hanya memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi K-One Dream Network dalam mendukung digitalisasi proses bisnis. Kolaborasi antara dunia akademik dan dunia industri diharapkan mampu menghasilkan solusi teknologi yang inovatif sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengembangan perangkat lunak berbasis kebutuhan pengguna serta pentingnya penerapan teknologi informasi dalam meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Diharapkan sistem yang telah dikembangkan dapat terus disempurnakan dan menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan K-One Dream Network di masa mendatang.
Penulis: Muhammad Nashron Ma'ruf, dan Jeon Marshall Garcia
Transformasi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Aktivitas yang semula dikerjakan secara manual beralih ke sistem digital. Terlebih lagi untuk menghadapi revolusi industri 5.0 dan era society 5.0 yang menitikberatkan pada integrasi teknologi canggih seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan berbagai teknologi robotika lainnya. Dalam situasi seperti ini, manusia tidak hanya cukup menjadi pengguna teknologi. Diperlukan kemampuan berpikir yang mampu memahami, menyelesaikan, dan mengambil keputusan dari berbagai persoalan digitalisasi. Salah satu kemampuan berpikir yang penting di era transformasi digital ini adalah computational thinking.
Computational thinking merupakan bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi yang menuntut cara berpikir sistematis dalam menyelesaikan masalah. Kemampuan ini sangat relevan untuk mendukung kehidupan di era transformasi digital. Computational thinking menekankan proses pemecahan masalah melalui beberapa komponen utama, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan penyusunan langkah-langkah algoritmik. Meskipun konsep ini berasal dari ilmu komputer, penerapannya dapat dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Salah satu bidang yang berperan penting dalam membangun kemampuan computational thinking adalah pembelajaran matematika.
Matematika bukan hanya ilmu yang membahas angka, rumus, dan operasi hitung semata. Esensi matematika jauh lebih luas karena mampu melatih kemampuan berpikir logis, sistematis, dan terstruktur. Karakteristik inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun computational thinking. Dalam menyelesaikan persoalan matematika, siswa harus mampu mengidentifikasi informasi yang relevan, menentukan langkah pengerjaan yang diperlukan, memilih metode yang tepat, serta memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Proses penyelesaian ini sejalan dengan komponen utama computational thinking.
Pada pembelajaran matematika, dekomposisi terlihat ketika siswa mampu memecahkan persoalan yang kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Pengenalan pola muncul ketika siswa mampu memahami keteraturan dalam pola angka, pola bilangan, pola gambar, maupun pola geometri. Abstraksi dapat diamati ketika siswa memusatkan perhatian pada informasi penting dan mengabaikan informasi yang tidak relevan dengan mengubah situasi nyata menjadi model matematika. Sementara itu, berpikir algoritmik tercermin melalui kemampuan menyusun langkah-langkah penyelesaian yang jelas, berurutan, dan sistematis. Dengan demikian, pembelajaran matematika sesungguhnya merupakan bidang yang sangat potensial dalam membangun dan mengembangkan kemampuan computational thinking.
Di era transformasi digital, kemampuan computational thinking menjadi semakin penting. Banyak profesi di masa depan akan bergantung pada digitalisasi, sehingga kemampuan menganalisis data, memahami sistem digital, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang relevan menjadi kebutuhan utama. Dunia kerja modern tidak hanya membutuhkan individu yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi. Komponen-komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan matematika dan computational thinking.
Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma dalam pembelajaran matematika. Guru perlu memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi permasalahan matematis melalui pengalaman belajar yang terintegrasi dengan teknologi digital, kegiatan unplugged coding, pemrograman sederhana, analisis data, serta tugas berbasis proyek pemecahan masalah. Matematika dapat menjadi pintu masuk yang alami dalam pengembangan computational thinking karena keduanya memiliki landasan yang sama, yaitu penalaran logis dan kemampuan memecahkan masalah.
Pada akhirnya, transformasi digital bukan hanya tentang perkembangan teknologi, melainkan juga tentang transformasi cara berpikir manusia. Dalam konteks ini, matematika memiliki posisi yang sangat penting sebagai fondasi penguatan computational thinking. Melalui pembelajaran matematika yang berorientasi pada penalaran, pemecahan masalah, dan kreativitas, generasi muda dapat dipersiapkan menjadi individu yang adaptif, inovatif, serta mampu berkontribusi secara aktif dalam masyarakat digital.
Dengan demikian, matematika tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit dan menakutkan, melainkan sebagai bekal strategis untuk menghadapi masa depan yang semakin kompleks dan berbasis teknologi.